Kacip fatimah atau nama latinnya Labisia pumila dari famili Myrsinaceae adalah sejenis tumbuhan herba yang mempunyai batang berkayu. Tanaman ini biasanya tumbuh secara liar di hutan hujan tropika pada ketinggian 750 meter dpl atau lebih.
Hidup Harmoni Bersama Alam
Poros Nusantara Utama (PNU), melalui salah satu unit bisnisnya yaitu Poros Nusantara Utama Jawa Barat (Poros Jabar) bersama anggota petani mengutamakan kehidupan yang harmoni bersama dengan alam sekitar tempat hidupnya.
Mengupayakan pengolahan alam secara alami tanpa memaksakan penggunaan pestisida dan tanpa pupuk kimia, sehingga akan menghasilkan produk bermutu yang sehat untuk dikonsumsi.
Poros Jabar merupakan badan usaha milik Perkumpulan Telapak yang beroperasi di teritorial Jawa Barat.
Sampai saat ini, Poros Jabar menjalani usahanya dengan bekerjasama dengan kelompok-kelompok tani yang berlokasi di kawasan Taman Nasional Gede – Pangrango dan Taman Nasional Halimun – Salak.
Sejak tahun 2006, Poros Jabar mencoba membantu kelompok tani dalam memasarkan produknya supaya tercipta kemandirian secara ekonomi.
Kerjasama pendampingan dilakukan dengan tujuan para petani dalam melakukan pemasaran produknya dapat dilakukan tidak secara individual lagi yang dapat menyebabkan tengkulak dapat memainkan harga di tingkat petani.
Selain itu, diharapkan kendala yang dimiliki para petani, seperti produktivitas yang rendah, permodalan dan teknologi paska panen yang minim, serta akses informasi pasar yang terbatas dapat diatasi dengan bekerjasama dengan Poros Jabar, yang diharapkan nantinya para petani menjadi mandiri dan memiliki kemampuan/daya tawar yang baik.
Bersama Perkumpulan Telapak, Poros Jabar mendampingi kelompok tani melalui pembangunan kelembagaan ekonomi yang adil dan transparan dalam bentuk sebuah koperasi. Selain itu, diharapkan dengan adanya koperasi maka akan terbangun kapasitas setiap petani dalam melakukan perencanaan produksi bersama, serta memperbaiki sistem pengolahan paska panen sehingga mendapatkan standar kualitas produk yang maksimal.
Mengupayakan pengolahan alam secara alami tanpa memaksakan penggunaan pestisida dan tanpa pupuk kimia, sehingga akan menghasilkan produk bermutu yang sehat untuk dikonsumsi.
Poros Jabar merupakan badan usaha milik Perkumpulan Telapak yang beroperasi di teritorial Jawa Barat.
Sampai saat ini, Poros Jabar menjalani usahanya dengan bekerjasama dengan kelompok-kelompok tani yang berlokasi di kawasan Taman Nasional Gede – Pangrango dan Taman Nasional Halimun – Salak.
Sejak tahun 2006, Poros Jabar mencoba membantu kelompok tani dalam memasarkan produknya supaya tercipta kemandirian secara ekonomi.
Kerjasama pendampingan dilakukan dengan tujuan para petani dalam melakukan pemasaran produknya dapat dilakukan tidak secara individual lagi yang dapat menyebabkan tengkulak dapat memainkan harga di tingkat petani.
Selain itu, diharapkan kendala yang dimiliki para petani, seperti produktivitas yang rendah, permodalan dan teknologi paska panen yang minim, serta akses informasi pasar yang terbatas dapat diatasi dengan bekerjasama dengan Poros Jabar, yang diharapkan nantinya para petani menjadi mandiri dan memiliki kemampuan/daya tawar yang baik.
Bersama Perkumpulan Telapak, Poros Jabar mendampingi kelompok tani melalui pembangunan kelembagaan ekonomi yang adil dan transparan dalam bentuk sebuah koperasi. Selain itu, diharapkan dengan adanya koperasi maka akan terbangun kapasitas setiap petani dalam melakukan perencanaan produksi bersama, serta memperbaiki sistem pengolahan paska panen sehingga mendapatkan standar kualitas produk yang maksimal.
05 March 2008
Kacip Fatimah, Tanaman Eksotik Yang Berkhasiat
Kacip fatimah atau nama latinnya Labisia pumila dari famili Myrsinaceae adalah sejenis tumbuhan herba yang mempunyai batang berkayu. Tanaman ini biasanya tumbuh secara liar di hutan hujan tropika pada ketinggian 750 meter dpl atau lebih.
Tag:
Kacip Fatimah,
Labisia Pumila
Kumis Kucing
Sentra produksi Kumis Kucing di Indonesia adalah di daerah Jawa. Di Jawa barat, tanaman ini telah dikenal dan dikembangkan olah masyarakat petani terutama di daerah lereng pegunungan Gede – Pangrango dan Halimun - Salak sejak tahun 1989. Masyarakat mengenal tanaman ini sebagai obat untuk penyembuhan penyakit batu ginjal dan asam urat. Tanaman ini mulai berkembang luas setelah banyak permintaan dari industri farmasi dan jamu dari dalam negeri.
Sentra produksi dan pengolahan kumis kucing terdapat di Desa Bedogol – Lido, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Petani di daerah ini bergabung dalam suatu wadah koperasi bernama Koperasi Tanaman Obat Jawa Barat. Bersama mereka bergabung pula kelompok tani Lindung Harapan – Kampung Tapos dan Kelompok Tani Mekar - Desa Karyasari yang juga sedang membudidayakan tanaman Kumis Kucing. Saat ini anggota yang tergabung di dalam budidaya kumis kucing berjumlah 400 petani dengan luas lahan yang dikelola sekitar 40 hektar tersebar di sekitar kawasan pegunungan Gede –Pangrango dan Halimun – Salak. Hasil panen saat ini telah mencapai lebih dari 5 ton daun kumis kucing kering setiap bulannya dan akan terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya petani yang bergabung menjadi anggota koperasi tanaman obat ini.
Koperasi mengkoordinasikan seluruh anggota dalam perencanaan produksi, pengolahan pasca produksi dan pemasaran hasil produksi. Koperasi membangun tata niaga perdagangan secara adil dan transparan dimana anggota menjadi penerima manfaat utama dari system perdagangan yang dibangun. Saat ini sebagian besar hasil panen masih dijual di pasar local di dalam negeri. Namun demikian koperasi telah mulai menjajaki pasar luar negeri dan mulai mencari mitra pembeli potensial di luar negeri.
Koperasi Tanaman Obat Jawa Barat memproduksi dua jenis hasil panen kumis kucing, yaitu kumis kucing konvensional yang masih menggunakan pupuk kimia dan kumis kucing organic . Akan tetapi jumlah kumis kucing konvensional semakin lama semakin berkurang seiring dengan kesadaran petani bahwa pertanian organic terbukti mampu memperbaiki struktur tanah, biaya yang relative murah dan hasil panen yang bermutu baik walaupun jumlah panenan sedikit berkurang dibandingkan dengan pertanian konvensional.
Koperasi Tanaman Obat Jawa Barat saat ini telah mampu melakukan standarisasi produksi, dimana belum mampu dilakukan oleh petani kumis kucing lainnya. Mereka memproduksi kumis kucing Grade Super, yaitu daun berwarna hijau, kandungan batang rendah dan kadar air 13%. Peningkatan kualitas ini telah mampu menaikan harga jual kumis kucing organic di pasar local sehingga meningkatkan pula harga beli di tingkat petani. Peningkatan harga akan terus diusahakan oleh Koperasi Tanaman Obat Jawa Barat melalui perluasan pasar export agar tujuan mencapai kesejahteraan petani anggota koperasi dapat diwujudkan.
Artikel ditulis oleh : Hendaru Djumantoro
Tag:
Brosur,
Kumis Kucing
04 March 2008
Nenas Tapos (Gati)
Nenas Tapos adalah jenis nenas khas dari Bogor-Jawa Barat. Nenas yang nama latinnya Bromeliaceae ini di tempat aslinya biasa disebut Nenas Gati.
Nenas Gati terkenal karena rasanya yang manis dan segar walaupun jika dibandingkan dengan nenas jenis lain bentuk fisiknya lebih kecil. Nanas Gati Lapisan kulit luar lebih tipis dan saat matang berwarna kuning cerah. Rasa manis nenas ini sudah mulai terasa pada saat lapisan kulit luar berwarna kuning kehijauan atau setengah matang. Dalam bahasa lokal disebut ”mengkel”.
Sebenarnya tanaman ini sudah hampir punah, namun pada tahun 1997 mulai dibudidayakan kembali oleh petani di Kampung Tapos desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor . Mereka tergabung dalam kelompok tani Lindung Harapan dan beranggotakan 90 keluarga tani. Kampung Tapos berlokasi di kaki gunung Salak, masuk didalam kawasan taman nasional Gunung Halimun – Salak.
Setelah memperoleh ijin memanfaatkan lahan kehutanan oleh Perhutani, kelompok tani ini mulai melakukan penanaman nenas dibawah tegakan pohon di areal hutan secara tumpang sari. Nenas ditanam di kaki guning Salak pada ketinggian antara 700 – 1000 m dpl. Sampai saat ini luas areal nenas yang dikelola telah mencapai sekitar 25 hektar dan telah berkembang bukan hanya di kampung Tapos tetapi juga di kampung lainnya di desa Sukaharja.
Keunikan lain dari nenas Gati dari Tapos ini adalah ditanam secara alami tanpa menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Sehingga nenas ini sangat sehat untuk dikonsumsi. Sementara sejauh ini belum ditemui produk nenas organik yang sengaja dibudidaya secara luas di Indonesia. Saat ini hasil panen nenas mencapai 1 ton per hari pada saat musim panen dan menurun sekitar 300 kg per hari saat tidak musim. Musim panen terjadi pada bulan Januari – Maret dan bulan Juni-Oktober. Diluar bulan tersebut produksi nenas menurun.
Sampai saat ini nenas dijual dalam bentuk curah-segar dipasarkan di pasar lokal di sekitar kota Bogor. Sering kali harga nenas sangat rendah pada saat musim panen sehingga sangat merugikan petani. Pada saat terjadi penurunan produksi harga nenas cukup tinggi, namun petani tidak dapat menikmatinya karena mereka tidak memiliki nenas. Sudah ada inisiatif untuk mengembangkan nenas tersebut menjadi produk olahan seperti selai dan dodol nenas. Namun sejauh ini upaya tersebut belum berhasil menaikan harga secara nyata.
Tanaman Obat Jawa Barat bersama Telapak bekerja dikampung Tapos, didukung oleh HPSP (Holticultura Partnership Support Programme) dan Japan Enveronmental Education Forum (JEFF)
Nenas Gati terkenal karena rasanya yang manis dan segar walaupun jika dibandingkan dengan nenas jenis lain bentuk fisiknya lebih kecil. Nanas Gati Lapisan kulit luar lebih tipis dan saat matang berwarna kuning cerah. Rasa manis nenas ini sudah mulai terasa pada saat lapisan kulit luar berwarna kuning kehijauan atau setengah matang. Dalam bahasa lokal disebut ”mengkel”.Sebenarnya tanaman ini sudah hampir punah, namun pada tahun 1997 mulai dibudidayakan kembali oleh petani di Kampung Tapos desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor . Mereka tergabung dalam kelompok tani Lindung Harapan dan beranggotakan 90 keluarga tani. Kampung Tapos berlokasi di kaki gunung Salak, masuk didalam kawasan taman nasional Gunung Halimun – Salak.
Setelah memperoleh ijin memanfaatkan lahan kehutanan oleh Perhutani, kelompok tani ini mulai melakukan penanaman nenas dibawah tegakan pohon di areal hutan secara tumpang sari. Nenas ditanam di kaki guning Salak pada ketinggian antara 700 – 1000 m dpl. Sampai saat ini luas areal nenas yang dikelola telah mencapai sekitar 25 hektar dan telah berkembang bukan hanya di kampung Tapos tetapi juga di kampung lainnya di desa Sukaharja.Keunikan lain dari nenas Gati dari Tapos ini adalah ditanam secara alami tanpa menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Sehingga nenas ini sangat sehat untuk dikonsumsi. Sementara sejauh ini belum ditemui produk nenas organik yang sengaja dibudidaya secara luas di Indonesia. Saat ini hasil panen nenas mencapai 1 ton per hari pada saat musim panen dan menurun sekitar 300 kg per hari saat tidak musim. Musim panen terjadi pada bulan Januari – Maret dan bulan Juni-Oktober. Diluar bulan tersebut produksi nenas menurun.
Sampai saat ini nenas dijual dalam bentuk curah-segar dipasarkan di pasar lokal di sekitar kota Bogor. Sering kali harga nenas sangat rendah pada saat musim panen sehingga sangat merugikan petani. Pada saat terjadi penurunan produksi harga nenas cukup tinggi, namun petani tidak dapat menikmatinya karena mereka tidak memiliki nenas. Sudah ada inisiatif untuk mengembangkan nenas tersebut menjadi produk olahan seperti selai dan dodol nenas. Namun sejauh ini upaya tersebut belum berhasil menaikan harga secara nyata.Tanaman Obat Jawa Barat bersama Telapak bekerja dikampung Tapos, didukung oleh HPSP (Holticultura Partnership Support Programme) dan Japan Enveronmental Education Forum (JEFF)
28 June 2007
Bertani Organik
Saat ini istilah Organik sudah mendunia seiring dengan semakin sadarnya masyarakat terhadap pentingnya kesehatan.
Apa itu bertani Organik.? Orang awam mengistilahkan kata organik adalah pertanian yang menggunakan pupuk alami dan tanpa pestisida kimia. Anggapan tersebut tentu saja tidak salah, namun kalimat Organik dalam arti luas mengandung makna ”Organ atau Organisme” yaitu bagaimana kita melayani kehidupan secara alami dan tidak memaksakan. Organik berarti menjalani kehidupan secara natural sesuai dengan hukum alam.
Jika hal tersebut diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari artinya tingkah laku Organik adalah tingkah laku yang yang seimbang dengan alam, tidak merusak, tidak mencemari dan tidak berbuat semena-mena dengan alam sehingga berakibat mengganggu keseimbangan alam. Tindakan merusak diri sendiri seperti merokok, minum alkohol, bergadang sepanjang malam, bekerja tanpa istirahat, sikap emosi dll, merupakan tingkah yang tidak Organik.
Bagaimana ”Organik” diterapkan dalam pertanian.? Pertanian Organik adalah pertanian yang menyeimbangkan segala unsur di alam. Menjaga kehidupan di kebun atau ladang pertanian tetap seimbang satu sama lain, saling tergantung dan saling menghidupi. Tindakan membunuh ulat atau serangga ”pengganggu” tanaman dengan obat adalah tindakan tidak Organik. Mengapa..? karena bisa jadi yang mati bukan hanya ”pengganggu” tetapi juga organisme lain yang bermanfaat, seperti bakteri pengurai, burung pemakan ulat bahkan manusia sendiri.
Tindakan Organik yang bijaksana adalah menciptakan keseimbangan dengan memberi peluang lebih banyak pada unsur lain yang memakan atau mengusir serangga dan ulat ”pengganggu” tersebut.
Pemanfaatan pestisida alami sering diterapkan untuk mengusir pengganggu atau membuat tidak nyaman berada di areal pertanian Organik.
Kalimat saling menghidupi jika dimaknai secara mendalam juga mengandung makna penerapan pertanian dengan menggunakan semua unsur yang tersedia di alam tanpa harus tergantung pada pihak lain. Bertani organik ”seharusnya” akan menekan biaya petani, karena petani menyediakan sendiri unsur-unsur yang dibutuhkan seperti bibit, pupuk dan obat-obatan dari lingkungan mereka. Trend Organik saat ini ditangkap oleh pengusaha pupuk dan obat-obatan dengan menciptakan pupuk alami dan pestisida alami dalam kemasan. Tindakan yang sah tentu saja. Namun jika kita kembali pada makna Organik, maka membeli pupuk dan pestisida walaupun berlabel ”Organik” membuat petani tetap bergantung pada pihak lain.
Hendaru Djumantoro,
Juni 2008
Apa itu bertani Organik.? Orang awam mengistilahkan kata organik adalah pertanian yang menggunakan pupuk alami dan tanpa pestisida kimia. Anggapan tersebut tentu saja tidak salah, namun kalimat Organik dalam arti luas mengandung makna ”Organ atau Organisme” yaitu bagaimana kita melayani kehidupan secara alami dan tidak memaksakan. Organik berarti menjalani kehidupan secara natural sesuai dengan hukum alam.
Jika hal tersebut diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari artinya tingkah laku Organik adalah tingkah laku yang yang seimbang dengan alam, tidak merusak, tidak mencemari dan tidak berbuat semena-mena dengan alam sehingga berakibat mengganggu keseimbangan alam. Tindakan merusak diri sendiri seperti merokok, minum alkohol, bergadang sepanjang malam, bekerja tanpa istirahat, sikap emosi dll, merupakan tingkah yang tidak Organik.
Bagaimana ”Organik” diterapkan dalam pertanian.? Pertanian Organik adalah pertanian yang menyeimbangkan segala unsur di alam. Menjaga kehidupan di kebun atau ladang pertanian tetap seimbang satu sama lain, saling tergantung dan saling menghidupi. Tindakan membunuh ulat atau serangga ”pengganggu” tanaman dengan obat adalah tindakan tidak Organik. Mengapa..? karena bisa jadi yang mati bukan hanya ”pengganggu” tetapi juga organisme lain yang bermanfaat, seperti bakteri pengurai, burung pemakan ulat bahkan manusia sendiri.
Tindakan Organik yang bijaksana adalah menciptakan keseimbangan dengan memberi peluang lebih banyak pada unsur lain yang memakan atau mengusir serangga dan ulat ”pengganggu” tersebut.
Pemanfaatan pestisida alami sering diterapkan untuk mengusir pengganggu atau membuat tidak nyaman berada di areal pertanian Organik.
Kalimat saling menghidupi jika dimaknai secara mendalam juga mengandung makna penerapan pertanian dengan menggunakan semua unsur yang tersedia di alam tanpa harus tergantung pada pihak lain. Bertani organik ”seharusnya” akan menekan biaya petani, karena petani menyediakan sendiri unsur-unsur yang dibutuhkan seperti bibit, pupuk dan obat-obatan dari lingkungan mereka. Trend Organik saat ini ditangkap oleh pengusaha pupuk dan obat-obatan dengan menciptakan pupuk alami dan pestisida alami dalam kemasan. Tindakan yang sah tentu saja. Namun jika kita kembali pada makna Organik, maka membeli pupuk dan pestisida walaupun berlabel ”Organik” membuat petani tetap bergantung pada pihak lain.
Hendaru Djumantoro,
Juni 2008
Tag:
Organik
23 January 2007
Teh Hijau dan Teh Hitam Telapak
Teh Hijau dan Teh Hitam Telapak adalah teh yang diproduksi secara organik, tumbuh secara liar dan alami disela-sela tegakan pepohonan tanaman dan hutan masyarakat Kampung Gunungsari Desa Karyasari, Leuwiliang Bogor dan Kampung Tapos Desa Sukaharja, Cijeruk Bogor. Teh ini bebas dari residu bahan kimia.
Teh Hijau dan Teh Hitam Telapak diolah secara tradisional sebagai warisan budaya turun temurun Masyarakat Adat Sunda. Aroma dan cita rasanya khas, nikmat untuk segala suasana.
Teh Hijau dan Teh Hitam Telapak dapat mengobati penyakit diabetes, mencegah penyakit jantung koroner, stroke dan kanker, tekanan darah tinggi, menurunkan kolesterol, menghambat efek penuaan kulit, mengurangi stress, mencegah osteroporosis, membunuh virus dan bakteri merugikan, mengaktifkan bakteri yang bermanfaat, dll.
Sejarah Teh Hijau & Teh Hitam Telapak
Desa Karyasari adalah sebuah desa di kaki gunung Halimun bagian utara. Masuk ke dalam kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, pada ketinggian 700 m dpl. jarak desa dari kota Bogor berjarak 50 km.
Kampung Tapos adalah salah satu kampung di kaki gunung Salak bagian utara. Kampung ini masuk ke dalam kawasan Taman Nasional gunung Halimun salak, pada ketinggian 750 m dpl. Dari kota Bogor berjarak 20 km.
Di Karyasari dan Tapos Teh telah dibudidaya sejak masa kolonial Belanda datang ke Indonesia. Mereka mengolah teh menjadi minuman sehari-hari dengan peralatan yang sederhana. Tata cara pengolahan teh ini diperkenalkan oleh pemerintah Hindia Belanda dan dalam perkembangannya mengalami modifikasi sesuai kultur budaya masyarakat Sunda.
Teh mulai dibudidaya secara luas oleh masyarakat pada tahun 1989 atas pesanan dari PT Perkebunan Nusantara 16. Luasan lahan saat itu mencapai lebih 50 hektar. Pada masa itu di Karyasari hampir seluruh kehidupan masyarakat tercukupi dari penjualan daun teh. Sementara di Tapos budidaya intensif teh dilakukan oleh PT .... sebagai suplier PT Perkebunan Nusantara 16. PT...... mempekerjakan masyarakat Tapos untuk perawatan dan pemanenan daun teh.
Namun masa itu tidak berlangsung lama karena pada tahun....... PT Perkebunan Nusantara 16 mulai melakukan penanaman sendiri di lahan kehutanan yang dikonversi menjadi perkebunan teh. Saat itulah perlahan harga daun teh mulai jatuh dan tidak menarik lagi untuk dibudidaya.
Masyarakat Karyasari mulai melirik komoditas lain yang lebih menguntungkan kemudian mulai membabat tanaman teh yang tidak menguntungkan tersebut untuk digantikan dengan tanaman lain. Beberapa yang masih tersisa tumbuh liar tidak terurus tersebar diantara pepohonan di kebun masyarakat. Sesungguhnya tanaman pengganti teh saat itu , yaitu karet dan cengkeh juga mengalami nasib serupa. Saat harga jatuh masyarakat membiarkan begitu saja tanaman tersebut.
Sementara di Tapos , PT...... meninggalkan begitu saja teh yang telah ditanam tersebut dan menjadi liar tidak terurus.
Anggota masyarakat sampai saat ini tetap mengolah teh yang masih tersisa sebagai minuman sehari-hari dan sebagian dijual secara lokal dalam jumlah sangat terbatas. Karena keberadaan yang liar tanpa diurus selama bertahun-tahun membuat teh ini menjadi teh organik dan alami, tidak tersentuh pupuk, pestisida dan karena lokasinya berada di ketinggian jauh dari kebisingan kendaraan membuat teh ini juga bebas dari pencemaran zat racun dari asap kendaraan seperti timbal dll.
Bersama – sama Telapak masyarakat di kedua tempat tersebut kemudian mulai melakukan perbaikan produksi melalui perbaikan cara pemanenan, pemilihan daun teh berkualitas dan perbaikan peralatan pengolahan teh sehingga menghasilkan standar Teh Hijau dan Teh Hitam yang berkaulitas dan bercitarasa tinggi. Teh kemudian dikemas dan dipasarkan secara luas di masyarakat sebagai teh hijau dan teh hitam organik yang bermanfaat bagi kesehatan. Kami berharap usaha ini dapat meningkatkan harga jual teh dan pada akhirnya dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat kampung Tapos dan Karyasari.
Teh Hijau dan Teh Hitam Telapak diolah secara tradisional sebagai warisan budaya turun temurun Masyarakat Adat Sunda. Aroma dan cita rasanya khas, nikmat untuk segala suasana.
Teh Hijau dan Teh Hitam Telapak dapat mengobati penyakit diabetes, mencegah penyakit jantung koroner, stroke dan kanker, tekanan darah tinggi, menurunkan kolesterol, menghambat efek penuaan kulit, mengurangi stress, mencegah osteroporosis, membunuh virus dan bakteri merugikan, mengaktifkan bakteri yang bermanfaat, dll.
Sejarah Teh Hijau & Teh Hitam Telapak
Desa Karyasari adalah sebuah desa di kaki gunung Halimun bagian utara. Masuk ke dalam kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, pada ketinggian 700 m dpl. jarak desa dari kota Bogor berjarak 50 km.
Kampung Tapos adalah salah satu kampung di kaki gunung Salak bagian utara. Kampung ini masuk ke dalam kawasan Taman Nasional gunung Halimun salak, pada ketinggian 750 m dpl. Dari kota Bogor berjarak 20 km.
Di Karyasari dan Tapos Teh telah dibudidaya sejak masa kolonial Belanda datang ke Indonesia. Mereka mengolah teh menjadi minuman sehari-hari dengan peralatan yang sederhana. Tata cara pengolahan teh ini diperkenalkan oleh pemerintah Hindia Belanda dan dalam perkembangannya mengalami modifikasi sesuai kultur budaya masyarakat Sunda.
Teh mulai dibudidaya secara luas oleh masyarakat pada tahun 1989 atas pesanan dari PT Perkebunan Nusantara 16. Luasan lahan saat itu mencapai lebih 50 hektar. Pada masa itu di Karyasari hampir seluruh kehidupan masyarakat tercukupi dari penjualan daun teh. Sementara di Tapos budidaya intensif teh dilakukan oleh PT .... sebagai suplier PT Perkebunan Nusantara 16. PT...... mempekerjakan masyarakat Tapos untuk perawatan dan pemanenan daun teh.
Namun masa itu tidak berlangsung lama karena pada tahun....... PT Perkebunan Nusantara 16 mulai melakukan penanaman sendiri di lahan kehutanan yang dikonversi menjadi perkebunan teh. Saat itulah perlahan harga daun teh mulai jatuh dan tidak menarik lagi untuk dibudidaya.
Masyarakat Karyasari mulai melirik komoditas lain yang lebih menguntungkan kemudian mulai membabat tanaman teh yang tidak menguntungkan tersebut untuk digantikan dengan tanaman lain. Beberapa yang masih tersisa tumbuh liar tidak terurus tersebar diantara pepohonan di kebun masyarakat. Sesungguhnya tanaman pengganti teh saat itu , yaitu karet dan cengkeh juga mengalami nasib serupa. Saat harga jatuh masyarakat membiarkan begitu saja tanaman tersebut.
Sementara di Tapos , PT...... meninggalkan begitu saja teh yang telah ditanam tersebut dan menjadi liar tidak terurus.
Anggota masyarakat sampai saat ini tetap mengolah teh yang masih tersisa sebagai minuman sehari-hari dan sebagian dijual secara lokal dalam jumlah sangat terbatas. Karena keberadaan yang liar tanpa diurus selama bertahun-tahun membuat teh ini menjadi teh organik dan alami, tidak tersentuh pupuk, pestisida dan karena lokasinya berada di ketinggian jauh dari kebisingan kendaraan membuat teh ini juga bebas dari pencemaran zat racun dari asap kendaraan seperti timbal dll.
Bersama – sama Telapak masyarakat di kedua tempat tersebut kemudian mulai melakukan perbaikan produksi melalui perbaikan cara pemanenan, pemilihan daun teh berkualitas dan perbaikan peralatan pengolahan teh sehingga menghasilkan standar Teh Hijau dan Teh Hitam yang berkaulitas dan bercitarasa tinggi. Teh kemudian dikemas dan dipasarkan secara luas di masyarakat sebagai teh hijau dan teh hitam organik yang bermanfaat bagi kesehatan. Kami berharap usaha ini dapat meningkatkan harga jual teh dan pada akhirnya dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat kampung Tapos dan Karyasari.
Tag:
Brosur
Subscribe to:
Posts (Atom)